Terombang-ambing didalam genangan waktu.
Tergadai, pada secercah harapan yang semu.
Rasa yang liputi setiap liku dan segala laku.
Seakan raib, yang ada hanya aku tiada AKU
Tahukah engkau apa itu setan yang Dirajam ?
Iya, itu adalah keberadaan aku-ku yang 'adam.
Jiwa yang dicambuk oleh kelalaian.
Berbekaskan noda-noda hitam, lukiskan penyesalan.
Dengan apakah aku berlindung darinya ?
Tentu saja, dengan namaNya
Empat huruf : Alif lam lam Ha
Apakah cukup hanya dengan diucap saja ?
Cukup, namun ada yang lebih bermakna.
Ucapkan, Namun Engkau tiada disana.
Semua kembali hening
Membuat akal sehat mulai terpelanting
Aku diam tak bergeming
Teringat kisah antara kita yang pernah tertawa bercanda nyaring
Namun semuanya kini terasa asing
Tak jemu aku berpangku rindu
Untuk sudi memimak kepadaku
Biarkan waktu menguraiku
Dengan keangkuhannya yang tak pernah mau untuk menunggu
Apa yang membuatmu semakin jauh?
Apa yang memaksamu untuk membuatku jatuh?
Apa yang merasukimu hingga kau tega membuatku runtuh?
Kematian sangat terasa dekat membunuh
Nalarku mulai terbuar
Amigdalaku kian mengakar
Kekecewaan seolah menjadi latar
Dan kau pergi tanpa pernah sedikitpun berkabar
Aku pulang dengan gontai kaki yang bergetar
Aku sadar
Rasaku tidak lah wajar
Berbinar binar dalam hidupku yang selalu bertopengkan tegar
Dan hanya kekecewaan yang semakin jelas tergambar
Apakah hadirku terasa membosankan?
Apakah semua yang kuberikan tak pernah cukup untuk bisa menenangkan?
Kau sendiri yang memintaku dengan air mata kepada tuhan
Tapi kau malah memperlakukanku soalah aku tak pernah sedikitpun diharapkan
Kau pandai bersiasat
Kau kurung cintaku dalam sekat
Kau buat jiwaku terasa penat
Dan kau buat semua lukaku bertambah pekat
Pergilah sejauh mungkin
Dan lupakan tentang hari kemarin
Doaku padamu selesai di ujung kata Aamiin
Berbahagialah sepuasnya di dunia
Sebelum karma memutarkan rodanya
Dan jika kau bertanya aku di mana
Aku ada
Di setiap derita yang akan kau rasa
*NS*
Batam, 21 November 21