Jumat, 17 September 2021

Puteri Menara Merana Karya : NS Duduk bersanggul bunga oh juwita Tengah menyisir di depan bingkai kaca Di seberang himpitan belenggu jendela Di atas jutaan himpunan batu bata Lelah bertatap muka dengan taburan mega Hasrat hendak meraih pendar kartika Berupaya untuk merengkuh angkasa Namun sebatas purnama pun hanyalah angan saja Rumput yang dipijak tak menjawabnya Kemana pergi sesosok pangeran berkuda? Mengapa yang hadir hanya para serigala? Akankah hatinya tetap atau berpaling darinya? Duhai malam tiadakah engkau punya rasa? Pada penantian panjang seorang jelita Tengah diasingkan di atas sebuah menara Dan kini berharap pangeran tiba atau takdir memutuskan untuk selamanya merana? Batam, 17 September 2021

 Terombang-ambing didalam genangan waktu.

Tergadai, pada secercah harapan yang semu.

Rasa yang liputi setiap liku dan segala laku.

Seakan raib, yang ada hanya aku tiada AKU


Tahukah engkau apa itu setan yang Dirajam ?

Iya, itu adalah keberadaan aku-ku yang 'adam.


Jiwa yang dicambuk oleh kelalaian.

Berbekaskan noda-noda hitam, lukiskan penyesalan.


Dengan apakah aku berlindung darinya ?


Tentu saja, dengan namaNya

Empat huruf : Alif lam lam Ha


Apakah cukup hanya dengan diucap saja ?

Cukup, namun ada yang lebih bermakna. 


Ucapkan, Namun Engkau tiada disana.


Semua kembali hening

Membuat akal sehat mulai terpelanting

Aku diam tak bergeming

Teringat kisah antara kita yang pernah tertawa bercanda nyaring

Namun semuanya kini terasa asing


Tak jemu aku berpangku rindu

Untuk sudi memimak kepadaku

Biarkan waktu menguraiku

Dengan keangkuhannya yang tak pernah mau untuk menunggu


Apa yang membuatmu semakin jauh?

Apa yang memaksamu untuk membuatku jatuh?

Apa yang merasukimu hingga kau tega membuatku runtuh?

Kematian sangat terasa dekat membunuh


Nalarku mulai terbuar

Amigdalaku kian mengakar

Kekecewaan seolah menjadi latar

Dan kau pergi tanpa pernah sedikitpun berkabar


Aku pulang dengan gontai kaki yang bergetar

Aku sadar

Rasaku tidak lah wajar

Berbinar binar dalam hidupku yang selalu bertopengkan tegar

Dan hanya kekecewaan yang semakin jelas tergambar


Apakah hadirku terasa membosankan?

Apakah semua yang kuberikan tak pernah cukup untuk bisa menenangkan?

Kau sendiri yang memintaku dengan air mata kepada tuhan

Tapi kau malah memperlakukanku soalah aku tak pernah sedikitpun diharapkan


Kau pandai bersiasat

Kau kurung cintaku dalam sekat

Kau buat jiwaku terasa penat

Dan kau buat semua lukaku bertambah pekat


Pergilah sejauh mungkin

Dan lupakan tentang hari kemarin

Doaku padamu selesai di ujung kata Aamiin


Berbahagialah sepuasnya di dunia

Sebelum karma memutarkan rodanya

Dan jika kau bertanya aku di mana

Aku ada

Di setiap derita yang akan kau rasa



 *NS*


Batam, 21 November 21